Jumat, 29 Juni 2018

Cerita Hamil Mil #7: (Curhatan BPJS) Pindah Haluan Rencana Melahirkan di RSU Queen Latifa Jogja dengan BPJS

Tarik napas panjang dulu sebelum memulai curhatan ini.

Di cerita terakhir tentang dokter dan RS, aku dan Pak Baba memang udah memutuskan untuk lanjut di RS UGM. Alasannya karena bisa pakai BPJS dengan rujukan dari faskes pertama. Sayangnya, keyakinan itu nggak bisa dilanjutkan, T.T.

Saat kontrol di bulan Juni lalu, aku datang ke faskes 1 (dr.umum) untuk periksa. Di sana, aku nggak diperiksa dan langsung dirujuk ke RS karena cerita riwayat hamil sebelumnya dan resiko hipertensi, dll. Sebelumnya, bisa langsung dirujuk ke RS UGM, kan. Eh, saat itu udah nggak bisa lagi. Katanya peraturannya berubah mulai 1 Juni 2018. Dari faskes 1 wajib merujuk ke rumah sakit tipe D, sebelumnya bisa langsung ke tipe C dan B. Fyi, RS UGM itu rumah sakit tipe B. Tentang tipe-tipe ini sila cari tahu sendiri ya. Intinya sih, tipe A lebih tinggi (fasilitas dan layanan lebih memadai) dari tipe B, C, juga D. Sebagai contoh, RS Sardjito itu tipe A.

Lanjut tentang rujukan ya. Di faskes 1 ini udah pakai sistem online, jadi surat rujukannya nggak bisa ditulis manual. Faskes rujukan pun hanya bisa pilih yang tersedia di komputer. Kalau di faskes 1 ku itu (masuknya kabupaten Sleman) kami bisa milih mau kemana. Pilihannya adalah RS-RS tipe D se-Jogja baik kota maupun kabupaten, jadi nggak berdasar wilayah kabupaten tertentu doank. Saat itu RS rujukan yang kukenal ada: RS Condong Catur, RS Happyland, RS Queen Latifa, RS Hidayatullah, dll, yang lain aku kurang familiar.

Akhirnya kami memilih RS Queen Latifa dengan pertimbangan cuma selemparan batu dari rumah. Kepikiran juga Happyland yang cukup populer untuk lahiran ibu-ibu. Tapi, kembali lagi tentang jarak, terlalu jauh dari rumah.

Jadiii, datanglah kami ke RS Queen Latifa berbekal surat rujukan, ketemu dr. Herlina, SpOg. Periksa lancar jaya, dokter komunikatif, mendengarkan, dan kasih kesempatan kami untuk bertanya sepuasnya. Saat bayar, kami nggak full free. Loh, kok bisa? Katanya pakai BPJS? Iya karena vitamin yang diresepin dokter nggak dicover BPJS. Bisa aja sih aku minta ganti dengan vitamin yang bisa dicover. Toh, nyatanya pas di RS UGM dulu bener-bener bisa 0 rupiah kok kontrolnya. Tapi, udah terlanjur dan galau juga nanti kandungan dalamnya beda, begitu menurut apotekernya. Yaudah deh, lumayan harga vitamin untuk 3 minggu 180ribu. Fiuh.

Nah, rencananya, aku akan qonaah lanjut kontrol di RS Queen Latifa ini sampai melahirkan dengan harapan aku bisa dapat rujukan melahirkan dari faskes pertama.

Ya aku emang ada rasa kecewa sih nggak jadi lanjut di RS UGM (cuma karena RS UGM mayan lebih glamor dikit penampilannya daripada Queen Latifa, hahaha). Sebagai alumni RS JIH yang superglamor, makluminlah ke-nggaksignifikan-ku. Tapi, aku juga bisa paham kok aturannya. Aku bukan kaum yang akan dengan mudah ngejudge "ribet pakai BPJS". Bukannya aku nggak ngakuin ya sistem dan pelayanan masih ada kurang sana-sini. Tapi, ya memang harus ada aturan kan ya, yang pakai juga banyak orang. Toh, aturannya tuh juga nggak dzolim, udah mempertimbangkan faktor keselamatan. Cuman, kadang kita tuh suka sotoy gitu loh, merasa gawat padahal enggak, wkwkw. Contohnya aku nih, ya aku emang nggak ada masalah apa-apa di kehamilanku sekarang, harusnya malah cukup lahiran di bidan aja kalau lancar sampai HPL ya. Cuman, aku bisa dirujuk karena ada riwayat cesar dan resiko pre eklamsi. Resiko ya, bukan vonis udah pre eklamsi. Nah, kasus kayak gini di RS Queen Latifa itu mampu menangani. Misalnya nanti ada kejadian yang mereka nggak mampu, pasti akan dirujuk lagi ke RS dengan tipe lebih tinggi. Kalok di kasusku ini, aku tanya kemungkinan apa yang membuatku bisa dirujuk ke RS tipe B bahkan A?

Dr. Herlina jelasin, aku bisa dirujuk lagi kalok nanti misalnya tensinya terpantau tinggi banget lebih dari 180 atau berat bayi di kandungan kurang dari minimal 2500 gram karena butuh NICU yang mereka nggak ada. Nah, ini ngerujuknya bisa sebelum proses melahirkan katanya, jadi dipantau terus aja.

Memang sih, itu kadang bisa bikin kita panik. Gimana nanti kalok dirujuk pas darurat banget harus pindah RS? Jujur aja eik juga adalah ketakutan itu. Cuman, kembali lagi ya sama pertimbangan aturan medisnya emang gitu. Banyak-banyak doa aja, dan positif thinking. Ngomong aja gampang lu bund, biasanya juga mewek-mewek,LOL. Kalok emang nggak bisa menolerir itu, ya bye BPJS aja. (Tapi nggak usah maki-maki BPJS cintaque juga lu ye).

Sejauh ini aku tetep kekeuh pengin berusaha pakai BPJS karena itu satu-satunya asuransi yang kupunya. Bodo amat deh kalok ada yang komen negatif kayak, "ih ribet deh, ih ga takut nanti kalok darurat, ih peritungan bgt demi anak."

Komen-komen kayak gitu (meski kadang rada menyinggung kayak oe miskin amat ya, nyoh duik iki duik aku yo duwee, lol) justru membuatku makin pengin membuktikan bahwa bersama BPJS kita bisa, wakakaka #antekpemerintah. Maksudku, emang itu hak kita yang bisa dimanfaatin kenapa enggak? Toh kita juga iuran tiap bulan untuk BPJS ini. Budjet lahirannya bisa buat hal lain misal kambing aqiqah, jalan-jalan ke Jepang, atau hura-hura. Hehe, becanda. Nyatanya selama ini BPJS udah banyak membantu keluargaku dalam hal medis. Ayahku dengan penyakit jantung udah pasang ring 2x nggak dipungut biaya lagi, belum kontrol bulanannya. Mamaku juga kontrol bulanan mata, hipertensi, operasi juga tercover. Anakku juga beberapa kali opname pakai BPJS alhamdulillah lancar.

Meski begitu, aku juga nggak mau saklek kalok emang mentok BPJS nggak bisa, tetep harus siap keluar uang sendiri, sih. Intinya berusaha memahami aja setiap situasi dan aturan. Ikuti alurnya dengan (berusaha) gentle, namaste hahahaha.

Ebused udah puanjang banget ya, Mah? Kayana segini dulu curhatan dari eik ya. Silakan dibuka termin pertanyaan jika ada.

Moga mangfangat, yah!

Love,
@diladol






Jumat, 18 Mei 2018

Cerita Hamil Mil #6 : DIY Maternity Shoot 27 Weeks

Alohaa

Kan kan kan. Anaknya omdo lagi, masak terakhir update 18 weeks, sekarang sudah alhamdulillah 27 weeks, LOL.

Nggak apa-apa deh. Kali ini, ku cuma pengin update foto ala-ala saat kehamilan 27 weeks. Kemarin aku masuk kerja, trus setelah briefing, Nadia nawarin aku foto-foto, hehehe. Serandom itu. Tadinya, aku pengin loh foto-foto maternity bagus-bagus sama fotografer, tapi kok ya masih sayang aja ya duitnya. Inget kambing aqiqah bayi cowok 2018, LOL.

Jadi ya ini, seada-adanya diposting dulu buat kenang-kenangan yah, hehehe.

Love,
@diladol


 










Jumat, 23 Maret 2018

Cerita Hamil Mil #5: Yoga Pertama di Usia Kandungan 18 Minggu

Telat seminggu nih ceritanya. Minggu lalu, 23 Maret 2018, aku ikut yoga lagi di kantor. Jadi, di kantor eik emang ada kelas senam gitu tiap Jumat pagi, gantian antara aerobic, yoga, dan kadang line dance. Biasanya aku cuma ikut yang yoga. Kalok ikut aerobic, rasanya menggeh-menggeh mau metong nggak kuat. Kalok ikut line dance, ya Allah sungguh pusing pala berbi ngikuti gerakan kaki instrukturnya yang kayak kebelit-belit, LOL.

Well, setelah ribuan abad nggak ikut yoga, akhirnya ikut lagi, kan. Bukan yoga keseus ibu hamil sih, tapi kalau ada bumil ikut biasanya Mba Ratna (instruktur serbabisa) akan menyesuaikan. Gerakan untuk aku dan peserta lain dibedain.

Yoga dimulai dengan latihan pernapasan. Biasalah ya ambil napas, buang napas, masih dalam keadaan berdiri. Trus pelenturan-pelenturan. Bagian ini sesuai petunjuk Mba Ratna nggak boleh ikut maksimal ya, terutama bagian-bagian setengah badan ke bawah. Misalnya, gerakan yang kuda-kuda kaki kanan turun, kaki kiri lurus ke samping. Duh, susah njelasinnya, wkwkw.

Saat gerakan-gerakan yang mulai berat (bagi ibu hamil), Mba Ratna langsung ngasih instruksi keseus. Misalnya pas pose A, kepala turun ke bawah sambil tangan menyentuh lantai dan diregangkan. Saat gerakan-gerakan begitu, aku dikasih gerakan keseus, yaitu...

Silakan dekati tembok, lalu tangan menempel di tembok, badan agak dijauhkan sedikit dari tembok. Mba Ratna menambahkan, gerakannya nahan pipis, ya. Heu? Iya, nahan pipis, trus lepas, nahan pipis trus lepas 2x8. Ini semacam kegel gitu kayaknya sih, tapi versi yang lebih light, LOL.

Sementara yang lain mulai diengek-engek (pose-pose bundet) sama Mba Ratna, aku masih dengan ego nemplok di tembok pojokan. Lama-lama geli ugak coi, "Mba Ratna, ni lama-lama aku kayak orang ego deh." Mba Ratna ngakak sambil bilang, "Demi babynya ya saay, sabar duluuu."

Selain itu, ada gerakan yang tahan setengah jongkok itu loh, yang biasanya bikin paha rasanya kayak mau lepas. Posisinya dari berdiri, trus turun pelan-pelan, tapi nggak boleh sampai jongkok, tahan deh tuh ampe kemranyas. Nah, bagian yang biasanya kusumpahin ini malah jadi favorit. Mba Ratna nyuruh aku cuma ngikutin naik turun tanpa ditahan, pelan-pelan aja. Trus dia bilang tuh, "Yang lainnya tahan ya saay, sampai Mba Dila 2x8." Wakakaa, rasanya pengin kulama-lamain deh tuh. Habis ini, kayaknya temen-temen pada males kalok yoga ada oe-nya, LOL.

Setelah gerakan-gerakan pelenturan dengan posisi berdiri, kami mulai turun ke posisi duduk. Di sini pun, Mba Ratna membatasi. Contohnya gerakan yang kaki ditekuk satu ke belakang, satu lagi selonjor ke depan. Kakiku cukup selonjor dua-duanya aja, sambil atur napas dan istirahat. Meski terlihat terbatas dan ringan banget, nyatanya eke kemringet ugak loh. Mantep!

Lanjutt ke bagian terfavorit yaitu pose relaksasi tiduuur. Aku sih langsung suruh mapan tiduran di matras, sementara temen-temen disiksa lagi dengan angkat turun kaki pelan-pelan yang mana mengakibatkan kesakitan yang memuncak di bagian perut dan paha, LOL. Maap ya gais, eke duluaaaan merem, hihihi.

Relaksasi tiduran ini paling enakk. Kami tiduran santai dengan musik yang menenangkan. Miring kanan, miring kiri, gitu-gitulahhh~

Overall, aku suka bangetttt yoga pertamaku saat hamil ini. Apalagi semua gerakan diperingan. Biasanya kan ikutan diengek-engek Mba Ratna. "Saaaay, yuhuuu, apa kabaaar? Masiii kuaaaat?" Sapa sumringah Mba Ratna kali ini bisa kutanggapi dengan bahagia, sementara itu temen-temenku dah gembrobyos dengan muka-muka masam. :))))

Love,
@diladol




Sabtu, 10 Maret 2018

Cerita Hamil Mil #4: Periksa Kehamilan di RSA UGM dengan dr. Esti Utami, SpOg

Sebenarnya mau cerita ini agak pelit sih, nanti kalok pada tahu trus kepengin juga, antrean eike jadi banyak, donk? LOL. Namun, kembali lagi pada prinsip #bundasoleha2018 yang gemar berbagi dan pembaca blog ini yang nggak seberapa, LOL, jadi yaweslah. Here we go!

Sebelum periksa di RSA UGM ini aku sudah mencoba beberapa tempat, yaitu RS JIH dan RSIA Adinda. Kalok dari kehamilan pertama dan sebelum hamil kedua juga dihitung, berarti tambah: RS Sakina Idaman dan RS Hermina. Nah, aku pengin nyobain RSA UGM karena jaraknya yang benar-benar satu kali salto dari rumah. Dan, meski doi RS tipe B, RSA UGM ini menerima rujukan langsung dari faskes pertama. Gosip-gosip yang terdengar kalok ada riwayat SC, yey bisa dirujuk melahirkan di RS. Jadi, mulai sekarang cari RS yang lengkap, cucmey, dan ramah BPJS.

Selain karena dekat, RSA UGM juga punya fasilitas NICU (ICU untuk bayi). Nggak berdoa sampai pakai yah. Namun, karena dulu anak pertamaku sempat masuk NICU JIH, aku makin yakin harus milih tempat lahiran berupa RS yang selengkap-lengkapnya. Kalok bisa yang BPJS, kalok nggak bisa ya tetep siap duwik maning duwik maning, :D.

Okeh. Kali pertama periksa di RSA UGM, kita harus daftar dulu. Kalok yey belum terdaftar sebagai pasien, yey tida bisa ambil nomor antrean via telepon. Dan, daftarnya harus dateng langsung banget. Huft, siap melawan mager dan antre yes. Meskipun ambil jalur umum (non-BPJS) antrean pendaftaran di RSA UGM ini cukup kiamat. Buat daftar doank, aku datang pagi dan dapat nomor 19. Padahal setelah daftar, nomor antre polinya nomor 2.

Dokter kandungan di sindang ada 2, yaitu dr Esti Utami, SpOg dan dr Widya Astuti, SpOg. Jadwal praktik mereka sama, Senin-Sabtu pukul 09.00-12.00 WIB. Aku memilih dokter Esti karena belakangnya ada embel-embel (k) alias konsultan subspesialis. Btw tambahan gosip nggak penting, dokter ini basodara, kakak-adik, dan dua-duanya adalah kakak ipar dari travel blogger tersohor Simbok Olenka. Hehehe.

Key, lanjut, yak! Seperti biasa akika nerves kalok mau ketemu dokter yang belum pernah ditemui. Nanti kalok galak gimana? Kalok cuek gimana?

Akhirnya setelah nunggu nggak berapa lama, masuk juga ke ruang praktik. Ruang praktiknya cukup luas dibanding dengan RSIA Adinda dan RS JIH. Ruangan untuk USG berjarak banget dari meja dokter dan ada penutupnya, tapi tenang suami-suami bole masuk, hehe.

Dokter Esti Utami, SpOg ini cantik dan terlihat masih muda. Doi juga sopan dan ramah, sering menjawab dengan aksen Bahasa Jawa alus, jadi sayang, deh. LOL. Pertanyaan-pertanyaan juga dijawabnya dengan enak, nggak buru-buru. Fyi, antrean poli ini emang lengang sih, hahaha, i love RSA UGM. Doi menjelaskan perkembangan janin, ukuran janin, dan nasihat lainnya.


Usia janin pada 1 Maret 2018 adalah 16 minggu 3 hari (kami sepakat lanjut pakai usia USG karena mens yang nggak teratur). HPL akika ditentukan 15 Agustus 2018. Dari tiga USG sebelumnya juga sama terus HPLnya. Berat janinnya 149 gram dan itu sae-sae aja say~. Dokter bilang bagus. Untuk urusan berat janin, aku emang cukup was-was. Intinya aku nggak mau BBLR (berat badan lahir rendah) pada anak pertamaku terjadi lagi. Jadi, aku selalu langsung cerita ke dokter yang kutemui untuk konsen pada hal itu. Dari ketiga dokter yang kutemui langsung menyarankan aspilet untuk pelancar darah agar asupan makanan lancar ke janin. Dokter Esti juga menyarankan lanjut aspilet dan ditambah penambah darah. Katanya tensi yang potensi tinggi memang sangat berpengaruh pada berat janin. Siap!

Lalu, tentang kontrol dengan BPJS, dr. Esti dengan ramah menjawab bisa, karena aku ditakutkan potensi tensi tinggi (jangan sampai pre-eklamsia). Dokter memintaku untuk tes urin lengkap dan darah, dan menyarankan untuk melakukannya di Puskesmas saja. Kabar dari bidan-bidan RSA UGM, di Puskesmas malah nanti diperiksa juga menyeluruh dari tes lab, gigi, dan gizi GRATIS, malah nanti bisa sekalian dirujuk ke RSA UGM untuk kontrol selanjutnya. Jadi, silakan menggunakan kesempatan itu. Paling enggak wajib 1x periksa di Puskesmas untuk pendataan pemerintah. Kader posyandu di kampungku pun berpesan demikian. Tentang Puskesmas ini akan kuceritain di post selanjutnga, yah!

Well, acara konsultasinya selesai, kami lanjut antre obat dan bayar. Hmm, ini adalah bagian favoritku karena total bayarnya murceee seusssss! Ughlala. Biaya dokter, cetak hasil USG, dan vitamin-vitamin cukup 211ribu saja! Emjiii~


Sepertinya, kami cukup mantap untuk lanjut periksa di RSA UGM karena merasa cucmey dengan dokter, jarak, dan biayanya. Meskipun, lagi-lagi masalah layar USG yang bures membuatku tiada paham, LOL. Jadi, yakin aja sama dokternya.

Love,
@diladol




Selasa, 30 Januari 2018

Cerita Hamil Mil #3: Review Dr. Diah Rumekti SPOG (K) di RSIA Adinda Jogja


Aloow~ Saat ini usia janin aku masuk 12 w. Alhamdulillah wasyukurillah mual-muntah sudah berkurang dan sudah bisa makan nasiii, horay!!

Sebenarnya jadwal kontrolku masih 2 minggu lagi ke dr. Mitta di JIH. Tapi, dasarnya aku kepo dan pengin memastikan lagi ke dokter yang lebih senior, (mengingat riwayat kehamilan pertama yang beresiko) jadi aku nyoba periksa ke dr. Diah Rumekti di RSIA Adinda. Kebetulan lokasinya nggak jauh dari rumah. Dulu pas kali pertama kontrol sebenarnya udah daftar sama dokter ini, tapi pada hari H eh dokternya berhalangan dan diganti dokter lain.

Sebelumnya aku telpon dulu daftar H-1. Jadwal dr. Diah Rumekti adalah Senin, Selasa, Kamis, Sabtu pukul 17.00 WIB. Tapi, nanti nomor urutnya sesuai kedatangan, jadi aku datang pukul 17.00 kurang, alhamdulillah nomor 4 dan RS masih sepi. Tempat nunggu juga enak dan bersih. Kursinya sofa jadi bisa lendot-lendot manja.

Sebelum masuk ruang periksa, aku tanya ke suster di FO. Jadi, dr. Diah Rumekti ini (k) atau subspesialisnya fetomaternal. Itu intinya untuk kehamilan beresiko gitulah ya, penyakit-penyakit kehamilan gitu katanya. Cucmey.

Begitu masuk, benar adanya kata khalayak bahwa dr. Diah Rumekti ini cantik wkw, cara bicaranya juga halus, tak lupa senyum. Namun, dibalik itu ada ketegasan yang tersimpan dalam sanubarinya. Akika kena omel gara-gara minta surat izin sakit, LOL. Kata beliau, harusnya beliau yang menentukan, bukan eke. Ya gimana dok, pusing akika buat kerja T.T.

Saat usg yang hanya beberapa detik itu beliau hanya bilang, "Ini ya bayinya, panjangnya 5cm, sudah ada detak jantung." Sudah, itu sadjaa~ Detak jantung jg tidak dikumandangkeun seus. Gapapa sih, aku udah dengar sebelumnya.

Lalu, jiwa kepo aku menyeruak kan yah, aku tanya usia segini udah kelihatan apa aja, usia berapa bisa mendeteksi kelainan, misal down syndrom, dll.

Beliau menjawab bahwa usia segini semuanya berkembang. Untuk usg yang lebih detil nanti ada waktunya saat 18-24w. Maksudnya ini usg 4 dimensi kayaknya, bukan dengan alat usg yang dipakai saat itu. Oiya, hasil usg di Adinda ini nggak begitu jelas, nggak sejelas usg di JIH.


Baca juga: USG di JIH

Tentang kelainan beliau menegaskan bahwa nggak usah mikirin itu, nggak usah banyak baca, salah-salah malah dapat info yang nggak benar. Iya sih, internet emang suka menjerumuskan ke lembang browsing yang berkepanjangan dan jadi aeng-aeng, LOL. Beliau juga meyakinkan bahwa eik ini sedang konsultasi dengan dokter spesialis konsultan, jadi percaya aja, gitu intinya mah.

Nah, intinya sih seperti dugaanku, kalau mau aeng-aeng ke dokter senior, nggak usah banyak sotoy dan siap mental aja. Kalau beliau nggak bilang apa-apa, ya berarti aman, LOL. Pengalamanku kalau ke dokter senior selalu gitu. Memang nggak membuatku nyaman, tapi ilmu dan pengalamannya ya nggak diragukan lagi. Buat yang suka kepo dan sotoy harap siap mental pokonya mah ;))).

Gitu deeeh, kontrol lagi bulan depan. Masih belum mutusin lanjut ke dr. siapa. Masing-masing ada plus minusnya. Kalau Pak Baba sih yakin dokter Diah ini pinter. Aku pun tak ragu lah makcikkk~ Cuman jiwa haus pengayoman ini penginnya tetep diceritain yang panjang lebar kan ya tentang kondisi bayi, hehehe.

Oiya, kontrol di sini murcinta bambinaaa. Aku hanya habis 226.000, usg 75ribu, dokter 105ribu, obat flu 16ribu, dan sisanya obat pengencer darah. Biasanya di JIH habis 600ribuan, fantastic baby dance!

Love,
@diladol

Jumat, 19 Januari 2018

Cerita Hamil Mil #2: Detak Jantung di Usia Janin 10 Minggu

Ini cerita kontrol ketigaku ke dokter kandungan. Karena merasa nyaman dengan penjelasan dokter Mitta Prana, aku kembali kontrol ke beliau di RS JIH pada
17 Januari 2018.

Oiya, proses ke dokter Mitta Prana ini agak repot, karena nggak bisa daftar via whatsapp. Biasanya, di JIH, daftar dokter bisa melalui WA resmi JIH dengan format yang simpel mulai jam 8 pagi. Namun, memang ada beberapa dokter yang tidak bisa mendapatkan antrean via daftar WA, jadi harus datang langsung, termasuk dokter Mitta Prana dan dokter Enny Pamuji.

Agar tetap dapat nomor antrean awal, dua kali kesempatan ini, Pak Baba daftar langsung ke RS JIH pada pukul 7 pagi. Lalu pulang. Dan nanti kami berangkat lagi sesuai jam praktik dokter, sekitar pukul 9-10 pagi hari Senin-Sabtu di RS JIH. Ambil nomor pukul segitu, kami mendapat nomor 3 dan 4. Namun, nggak usah khawatir, karena selama yang kutau antrean dokter Mitta Prana ini belum terlalu banyak, sekitar sampai 15 nomor. Jadi kalau kamu mau langsung datang saat jam praktiknya juga masih tahanlah antrenya, hehe. Kemarin kebetulan bareng dengan teman yang periksa juga. Dia datang jam 9 dan dapat nomor antrean 8. Begitulah.

Oke, saatnya masuk ke ruang priksa. Alhamdulillah Mil tumbuh lebih besar. Kepalanya besar, tubuhnya kecil dan masih terlihat meringkuk seperti udang :"). Tubuhnya juga sudah bisa diukur, yaitu 3,05 cm. Dokter Mitta Prana juga mengizinkanku mendengar detak jantungnya ;"). Mo nangis ya Allah, alhamdulillah. Detak jantungnya terdengar seperti suara kuda pacu, hehe. Kata dokter Mitta Prana, iramanya bagus, normal. Aamiin semoga terus begitu.

Kali ini, aku diresepin tambahan vitamin kalsium DHA selain folamil genio. Aku juga masih minta obat mual muntah, tapi minta ganti yang generik saja, yaitu Ondansetron. Kemarin diresepin Narfoz, sebiji 20ribu, emji! Sedangkan Ondansetron hanya 2ribu, haha.

Aku juga menanyakan beberapa keluhan yang ditanggapin dokter Mitta Prana sebagai hal wajar bagi bumil.

1. Sembelit
2. Mulut terasa pahit dan asam, disarankan untuk makan permen mint atau gulas.
3. Sulit minum air putih, memicu muntah. Disarankan menambahkan potongan buah ke air putih agar lebih ada rasa, dan minum dalam keadaan dingin.
4. Timbul ruam di sekitar bibir. Ini aku takut kalau-kalau penyakit, hehe. Ternyata mungkin serangga atau pulut makanan. Kalau terus melebar diminta konsul ke dokter kulit.

Sekian cerita kontrolku di kehamilan dengan usia janin 10 minggu ;). Sampai jumpa di kontrol berikutnya ya, aku diminta kembali satu bulan kemudian.

Love,
@diladol

Cerita Kehamilan #1 bisa dibaca di sini.

Rabu, 17 Januari 2018

Cerita Hamil Mil #1: Usia Kehamilan 8 Minggu, Tapi Kantung Janin Belum Terlihat

Cerita Kehamilan #1

Aku berniat mau rajin nulis jurnal kehamilanku yang kedua di blog ini, doakan aja semoga istiqomah, karena dulu kehamilan pertama nggak ada ceritanya, hiks.

Saat usia kehamilanku 8 minggu, dihitung berdasarkan HPHT (Hari pertama haid terakhir), aku cek ke dokter. Tentunya setelah mencoba testpack berkali-kali ya, dan semua hasilnya garis dua. Pas kali pertama ngecek masih sangat-sangat samar, jadi kuulang setiap hari, LOL. Semakin hari semakin jelas, jadi aku mantapkan periksa saat hitungannya sudah 8 minggu.

Aku pergi ke dokter Intan Titisari, SPOG di RS JIH, RS favoritku. Dulu saat anak pertama, aku juga rutin kontrol dan melahirkan di sana. Saat masuk ke ruangan dokter, aku langsung diperiksa USG. Oiya, fyi, siklus haidku tidak teratur. Sebelum akhirnya positif ini, aku sempat mengalami macet haid selama 3 bulan dan harus minum obat pelancar haid. Setelah minum obat, akhirnya aku haid juga, 2 kali haid, lalu positif.

Saat di-USG asli cemas banget, apalagi aku nggak bisa melihat ada sesuatu di layar monitor yang menampilkan rahimku. Dokter juga bilang, ini belum terlihat apa-apa. JLEGER. Kayak kesamber petir beneran, rasanya mau nangis, hiks. Dr. Intan menjelaskan bisa jadi karena siklusnya yang panjang dan tidak teratur, jadi belum terlihat di USG perutnya. Beliau menawariku untuk dicek dengan USG transvaginal, yang langsung ditolak Pak Baba. Alasannya? Dulu saat kehamilan pertama aku pernah tuh dimasukin alat itu, dan aku jerit-jerit nggak karuan, LOL. Jadi, Pak Baba langsung mutusin, nggak usah aja dok. Sementara aku galau bengat. Pengin mastiin juga, tapiiii takut juga diperiksa pakai "gituan".

Jadinya, aku putuskan untuk menunggu 2 minggu kemudian, yang rasanya bagaikan 2 abad, LOL. GALAU segalau-galaunya, asli. Cemen banget deh, ternyata hamil kedua nggak menjamin lebih nyantai atau woles, yah, buibu. Selama waktu menunggu, tentunya aku banyak browsing ya tentang kasus-kasus yang sekiranya sama denganku. Di google, di blog-blog orang, di forum ibuhamil.com, hehehe, siapa sih yang nggak mantengin ibuhamil.com? LOL

Daaan, seperti yang udah aku tahu juga, bahwa browsing itu tidak akan melegakan, pasti malah menjerumuskan aku ke kasus-kasus yang tidak aku inginnya, misalnya kehamilan BO atau blight ovum atau kehamilan kosong. Aku pun banyak browsing dengan kata kunci yang sekarang kutulis menjadi judul postingan ini. Harapannya, kalau kamu kebetulan punya kasus yang sama, dan bisa menemukan tulisanku, kamu akan lega. Karena ....

Tiga minggu kemudian, aku cek lagi ke RS JIH, kali ini ke dr. Mitta Prana SPOG. Kenapa bukan 2 minggu? Karena aku liburan akhir tahun dulu ke Bali, wkwkw. Saat itu, aku udah mulai mual dan muntah, tapi masih belum yakin, apakah Mil (panggilan untuk bayiku) mau menampakkan dirinya saat di USG.

Saat masuk ke ruangan dr.Mitta tentu saja jantungku ini udah dag-dig-dug nggak karuan asli. Saat alat USG diusapkan ke perutku. ALHAMDULILLAH, Mil telah menampakkan wujudnya, huhuhu T.T. Saat itu sudah ada kantung janin berukuran 2,9 cm dan bahkan sudah ada janinnya. Huhuhuhu lega bangettttt. Usia kandungan menurut USG dinyatakan 7 minggu 6 hari. Padahal saat itu, menurut HPHT 11 minggu. Kata dokter nggak masalah, ini bentuknya juga bagus, berarti kemarin memang karena haid nggak teratur aja, jadi memang belum terlihat. Aku diminta kontrol 2 minggu kemudian.



Lega banget rasanya, meskipun tetap was-was karena belum bisa mendengar detak jantungnya. Tapi, kami harus bersabar sampai 2 minggu kemudian ^^.

Untuk kamu yang mungkin berkasus sama denganku, tetap semangat yaaa! Positif thinking selalu, kalau sudah rejeki, insyaallah janin, bayi yang kita harap-harapkan pasti akan muncul :)

Love,